07
Februari
2020

Kemendikbud Ungkap Penyebab Teknologi di Sektor Pendidikan Masih Tertinggal

Kepala Pustekkom Kemendikbud Gogot Suharwoto (Foto: Rahel Narda Chaterine/detikcom)

Jakarta - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengatakan penerapan teknologi di bidang pendidikan masih tertinggal dibanding bidang lainnya. Salah satu kendalanya, kompetensi guru yang masih rendah.

Hal ini disampaikan Kemendikbud dalam pembukaan pameran '29th Indonesia International Education Training and Scholarship dan EduTech 2020, di JCC, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Pusat, Kamis (6/2/2020). Kegiatan ini berlangsung sejak 6-9 Februari 2020 yang dihadiri oleh perwakilan siswa, mahasiswa, guru, dan perwakilan perguruan tinggi.

"Di semua sektor sudah mengadopsi teknologi terkini yang sebagai tanda dari Revolusi Industri 4.0, mulai dari cloud, internet of things, big data, lock chance, artificial intelligence, dan masih banyak lagi teknologi terbaru. Sektor kesehatan, sektor pertahanan, ekonomi, pertanian semua sudah cepat mengadopsi," kata Kepala Pustekkom Kemendikbud Gogot Suharwoto, di lokasi.

"Teknologi di sektor pendidikan ternyata tidak secepat teknologi di sektor-sektor lain. Tentu yang tercepat adalah finance teknologi atau fintek," tambah Gogot.

Gogot berharap melalui kegiatan ini dapat meningkatkan penerapan teknologi di sektor di bidang pendidikan. Menurutnya, acara ini dapat menjadi sarana refleksi agar penyedia pendidikan dapat meningkatkan kualitas teknologi masing-masing.

"Jadi saat anak-anak menanyakan fasilitas-fasilitas pendidikan bidang teknologi. Kita harus sadar betapa terbatasnya layanan teknologi pendidikan yang sudah kita berikan. Banyak teknologi saat ini yang masih belum bisa kita sediakan. Kedua bisa sharing layanan-layanan terbaik kita bisa lihat saat ini," ujar Gogot.

Lebih lanjut itu, Gogot mengatakan kompetensi guru di bidang teknologi menjadi salah satu alasan rendahnya penerapan teknologi di sektor pendidikan. Dia mengatakan masih banyak guru tidak memiliki kompetensi teknologi.

"Hasil pemetaan kami dari 28.000 (guru) ternyata level 1 baru yang lolos 46%. Jadi memang kendala utama kompetensi mengusai masih di bawah 50 persen. Level 2, baru 14 persen. Jadi yang mampu menguasai teknologi itu baru 14-46 persen saja, masih kurang. Jadi kendala utamanya kompetensi guru terbatas," tutur Gogot.

Gogot menyebut penerapan aplikasi teknologi di pendidikan juga masih terbatas. Masih banyak guru yang mengetahui teknologi di pendidikan hanya sebatas 'power point'.

"Kedua aplikasi bidang pendidikan itu nggak banyak. Jadi guru mau pakai apa, ya mau pakai apalagi. Sekarang dengan EduTech ini harapannya guru tahu, ternyata ada peralatan yang lebih canggih untuk scanning, untuk smartphone, untuk robotik. Jadi banyak ide di sini yang bisa digali. Guru selama ini taunya itu cuma powerpoint. Sederhananya mengajar apa saja kaya iklan, apa aja mengajarnya minumnya powerpoint," tutur Gogot.

Sementara itu, Gogot mengungkapkan Kemendikbud sudah melalukan banyak hal untuk meningkatkan penerapan teknologi di bidang pendidikan. Mulai dari memberikan fasilitas traning ke pengajar, memberikan kurikulum informatika, hingga menyediakan aplikasi berbasis online.

"Kita siapkan kurikulumnya. Kurikulum mapel informatika kan sudah muncul lagi untuk anak-anak SD, SMP, SMA/K. Baru muncul 2019, teknologi segini gencar mapelnya nggak ada, TIK. Sehingga diubah informatika, karena informatika ada teknologi, komputer jaringam, aplikasi bahkan ada dampak sosial IT terhadap masyarakat," ujar Gogot.

"Penting lagi, aplikasi. Kami sudah menyediakan untuk macam macam, PPDB, UNBK, semua sudah difasilitasi dengan berbasis online," sambung Gogot.

    Kirim Komentar

    customization